Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id
Menjadi
penulis memang merupakan salah satu keinginanku sejak dulu. Berawal dari
membaca buku ‘AKU’ karya Sjuman Djaya, aku terdorong untuk menulis karya
pertamaku, sebuah puisi. Puisi yang begitu lucu jika aku baca dewasa ini. Karena
memang, kosakata yang aku tahu sangat sedikit. Bahkan banyak (karena ‘kemaruk’)
di antara karya puisiku mirip dengan kata-kata yang ditulis oleh Chairil Anwar.
Sosoknya yang begitu khas, berhasil menyihirku untuk meniru sang penyair asal
Sumatera Utara itu. Tidak hanya karyanya, bahkan gelagatnya yang tergambarkan
dengan baik lewat skrip skenario itu pun aku tiru. Duh!
Ya,
kegilaanku pada Chairil baik puisi dan kepribadiannya memang begitu kuat. Bahkan
sampai saat ini aku masih mengagumi karyanya. Walaupun, sejujurnya saat itu aku
menulis puisi agar disenangi oleh teman-teman perempuanku. Kalau sekarang? Adalah beberapa yang memang sengaja aku tulis untuk merayu perempuan. Hahaha. Tapi,
tujuan utama dari menulis sejatinya bukan hanya itu. Di samping agar dibaca oleh orang
lain, menulis bagi aku pribadi tidak lebih dari upaya mengenal diri lebih
dalam.
Mungkin
terdengarnya agak tidak santai alias sedikit berat. Namun, persepsi demikian
lah yang membuat aku tetap saja menulis. Tidak peduli apakah jelek atau bagus. Dengan
menulis, aku menjadi tahu siapa diriku. Menjadi tahu bagaimana karakterku. Tulisan
lah cermin pribadi atau karakter seseorang. Tentu, dalam hal ini diperlukan
sikap yang jujur. Kalau pada tulisan saja sudah tidak jujur, bagaimana dengan
hidup yang dilapisi kehidupan kita ini?
Berbicara
tentang kehidupan. Paparan di atas sebenarnya telah menggambarkan bagaimana
kehidupan menempatkan dirinya sebagai latar. Dan di dalam tulisan, ia biasa
kusebut sebagai kertas. Ya, kehidupan tak lain adalah sebuah kertas kosong. Hidup
tanpa adanya tinta dan semangat yang bersemayam di dalamnya akan percuma. Belum
dapat seseorang dikatakan telah hidup, jika kehidupan yang hakiki tidak mampu
dihidupkan. Kedengarannya berbau filosofis? Mungkin benar. Lalu pertanyaan yang
mengikuti adalah, bagaimana caranya agar kehidupan menjadi hidup?
Sejak
tahun 2010 aku telah menempatkan diriku sebagai penulis dalam arti yang lain. Penulis
yang tidak serta merta menulis pada kertas bendawi. Lebih dari itu, aku menulis
dalam konteks ke-ruh-an. Aku, telah lama kuibaratkan sebagai ujung pena. Sedang
semua yang kualami adalah tulisannya. Jawabannya menjadi jelas, kehidupan yang
benar-benar hidup berasal dari cara pandang kita terhadap hakikatnya; asal
muasalnya, alasannya, kisahnya dan tujuannya. Pernah mendengar atau membaca
kutipan dari Pramoedya Ananta Toer? Ia pernah berkata, “Hidup ini sungguh
sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tarfsirannya”. Ya, memang seperti itu
kehidupan. Hanya perlu menambahkan makna (tafsir) di dalamnya, maka hiduplah
kehidupan tersebut. Tapi, kita di sini sedang membicarakan tulisan yang
bersifat materi, bukan (?).
Dalam
rangka yang sama, yaitu hidup karena usaha menghidupkan. Sebuah prinsip yang
baru lahir dalam diriku; menulis untuk pengabdian. Lagi-lagi kedengarannya sok filosofis? Tentu saja. Apa kiranya
yang menyebabkan kita menulis tanpa dasar pemikiran yang kokoh? Sama artinya
dengan; apa gunanya kita hidup tanpa tujuan yang jelas? Oke, pelan. Mari kita selami
bersama.
Berangkat
dari prinsip menulis karena pengabdian. Sebenarnya, kalau mau dipikir, apa yang
harus diabdikan? Karyanya atau penulisnya? Bagiku dua-duanya. Sebagai seseorang
pemuda yang jiwanya masih begitu panas dan penuh semangat, aku yang juga berlatar
belakang sebagai aktivis kampus, memegang keyakinan bahwa apa yang aku lakukan
harus lah berdampak bagi orang lain. Sekecil apa pun tindakannya. Tentu mulanya
ditumbuhkan melalui kesadaran. Lalu merangkak pada sebuah keberanian. Hingga harapannya
mencerahkan. Namun, tindakan dan suara saja tidak akan pernah cukup. Dimensinya
hanya berlaku pada satu waktu. Sedang perjalanan hidup ini panjang dan masih
akan dilalui banyak generasi.
Pada
tahap itu harus ada pengabdian yang diabadikan. Ialah tulisan. Tulisan adalah
wujud lain dari suara dan perbuatan. Kedua hal yang kusebutkan terakhir dapat
punah sewaktu-waktu. Namun, dengan tulisan yang menyertainya, ia akan dapat
hidup selama-lamanya. Tidak sirna dilahap zaman. Apa yang membuat kita tetap
merasa bahwa kita adalah negeri yang merdeka secara konstitusi? Teks proklamasi
kemerdekaan! Apa yang membuat teks tersebut dapat terlaksana? Melalui Undang-Undang
Dasar dan Pancasila. Semuanya adalah tulisan! Suatu wujud dari perbuatan dan
diwujudkan melalui perbuatan jua.
Tepat
pertengahan November 2013 lalu, aku membikin sebuah blog. Terpikir olehku apa
nama yang tepat untuk blogku tersebut? Setelah lama kupikir, akhirnya aku pilih
nama yang indah: The Eternal Notes. Tidak perlu aku jelaskan artinya, kita
sudah mengetahui artinya. Bagiku, biar lah aku tak akan hidup sepanjang zaman. Tapi,
aku tak akan membiarkan tulisanku mati bersamaku. Biarkan ia hidup abadi. Sejelek
apapun wujudnya (isi tulisannya). Biarpun tidak ada yang mengenangnya. Harapanku
sederhana, agar ia merasakan zaman mendatang yang mungkin tidak aku alami.
Tulisan
adalah karunia. Tidak begitu berbeda dengan bayi yang meneriakkan tangisan
pertamanya di dunia. Tulisan juga merupakan karunia bagiku. Ia adalah anakku. Ia
yang akan kudidik sepanjang nasib mengajarkanku. Ia yang kubiarkan hidup sesuka
yang ia kehendaki. Ia yang akan berkelana bertemu teman-temannya, lalu bersuara
seraya berpesan tentang moralitas dan kemanusiaan.
Kenapa
harus moralitas dan kemanusiaan? Jika tanpa bersuara dan berpesan tentang
kemanusiaan, atas dasar apa ia berhak untuk menikmati dunia? Sedang yang
menderita tetap saja ada. Bukan kah nurani, pikiran dan tulisan yang
sebaik-baiknya adalah yang mencerahkan? Walau hanya sekedar goresan pena.
Salam.
Malang,
7 Februari 2014
Aqsha Al Akbar
