Thursday, 24 September 2026

[Mozaik Blog Competition 2014] Ia Abadi


Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id
 


Menjadi penulis memang merupakan salah satu keinginanku sejak dulu. Berawal dari membaca buku ‘AKU’ karya Sjuman Djaya, aku terdorong untuk menulis karya pertamaku, sebuah puisi. Puisi yang begitu lucu jika aku baca dewasa ini. Karena memang, kosakata yang aku tahu sangat sedikit. Bahkan banyak (karena ‘kemaruk’) di antara karya puisiku mirip dengan kata-kata yang ditulis oleh Chairil Anwar. Sosoknya yang begitu khas, berhasil menyihirku untuk meniru sang penyair asal Sumatera Utara itu. Tidak hanya karyanya, bahkan gelagatnya yang tergambarkan dengan baik lewat skrip skenario itu pun aku tiru. Duh!


Ya, kegilaanku pada Chairil baik puisi dan kepribadiannya memang begitu kuat. Bahkan sampai saat ini aku masih mengagumi karyanya. Walaupun, sejujurnya saat itu aku menulis puisi agar disenangi oleh teman-teman perempuanku. Kalau sekarang? Adalah beberapa yang memang sengaja aku tulis untuk merayu perempuan. Hahaha. Tapi, tujuan utama dari menulis sejatinya bukan  hanya itu. Di samping agar dibaca oleh orang lain, menulis bagi aku pribadi tidak lebih dari upaya mengenal diri lebih dalam.

Mungkin terdengarnya agak tidak santai alias sedikit berat. Namun, persepsi demikian lah yang membuat aku tetap saja menulis. Tidak peduli apakah jelek atau bagus. Dengan menulis, aku menjadi tahu siapa diriku. Menjadi tahu bagaimana karakterku. Tulisan lah cermin pribadi atau karakter seseorang. Tentu, dalam hal ini diperlukan sikap yang jujur. Kalau pada tulisan saja sudah tidak jujur, bagaimana dengan hidup yang dilapisi kehidupan kita ini?

Berbicara tentang kehidupan. Paparan di atas sebenarnya telah menggambarkan bagaimana kehidupan menempatkan dirinya sebagai latar. Dan di dalam tulisan, ia biasa kusebut sebagai kertas. Ya, kehidupan tak lain adalah sebuah kertas kosong. Hidup tanpa adanya tinta dan semangat yang bersemayam di dalamnya akan percuma. Belum dapat seseorang dikatakan telah hidup, jika kehidupan yang hakiki tidak mampu dihidupkan. Kedengarannya berbau filosofis? Mungkin benar. Lalu pertanyaan yang mengikuti adalah, bagaimana caranya agar kehidupan menjadi hidup?

Sejak tahun 2010 aku telah menempatkan diriku sebagai penulis dalam arti yang lain. Penulis yang tidak serta merta menulis pada kertas bendawi. Lebih dari itu, aku menulis dalam konteks ke-ruh-an. Aku, telah lama kuibaratkan sebagai ujung pena. Sedang semua yang kualami adalah tulisannya. Jawabannya menjadi jelas, kehidupan yang benar-benar hidup berasal dari cara pandang kita terhadap hakikatnya; asal muasalnya, alasannya, kisahnya dan tujuannya. Pernah mendengar atau membaca kutipan dari Pramoedya Ananta Toer? Ia pernah berkata, “Hidup ini sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tarfsirannya”. Ya, memang seperti itu kehidupan. Hanya perlu menambahkan makna (tafsir) di dalamnya, maka hiduplah kehidupan tersebut. Tapi, kita di sini sedang membicarakan tulisan yang bersifat materi, bukan (?).

Dalam rangka yang sama, yaitu hidup karena usaha menghidupkan. Sebuah prinsip yang baru lahir dalam diriku; menulis untuk pengabdian. Lagi-lagi kedengarannya sok filosofis? Tentu saja. Apa kiranya yang menyebabkan kita menulis tanpa dasar pemikiran yang kokoh? Sama artinya dengan; apa gunanya kita hidup tanpa tujuan yang jelas? Oke, pelan. Mari kita selami bersama. 

Berangkat dari prinsip menulis karena pengabdian. Sebenarnya, kalau mau dipikir, apa yang harus diabdikan? Karyanya atau penulisnya? Bagiku dua-duanya. Sebagai seseorang pemuda yang jiwanya masih begitu panas dan penuh semangat, aku yang juga berlatar belakang sebagai aktivis kampus, memegang keyakinan bahwa apa yang aku lakukan harus lah berdampak bagi orang lain. Sekecil apa pun tindakannya. Tentu mulanya ditumbuhkan melalui kesadaran. Lalu merangkak pada sebuah keberanian. Hingga harapannya mencerahkan. Namun, tindakan dan suara saja tidak akan pernah cukup. Dimensinya hanya berlaku pada satu waktu. Sedang perjalanan hidup ini panjang dan masih akan dilalui banyak generasi.

Pada tahap itu harus ada pengabdian yang diabadikan. Ialah tulisan. Tulisan adalah wujud lain dari suara dan perbuatan. Kedua hal yang kusebutkan terakhir dapat punah sewaktu-waktu. Namun, dengan tulisan yang menyertainya, ia akan dapat hidup selama-lamanya. Tidak sirna dilahap zaman. Apa yang membuat kita tetap merasa bahwa kita adalah negeri yang merdeka secara konstitusi? Teks proklamasi kemerdekaan! Apa yang membuat teks tersebut dapat terlaksana? Melalui Undang-Undang Dasar dan Pancasila. Semuanya adalah tulisan! Suatu wujud dari perbuatan dan diwujudkan melalui perbuatan jua.

Tepat pertengahan November 2013 lalu, aku membikin sebuah blog. Terpikir olehku apa nama yang tepat untuk blogku tersebut? Setelah lama kupikir, akhirnya aku pilih nama yang indah: The Eternal Notes. Tidak perlu aku jelaskan artinya, kita sudah mengetahui artinya. Bagiku, biar lah aku tak akan hidup sepanjang zaman. Tapi, aku tak akan membiarkan tulisanku mati bersamaku. Biarkan ia hidup abadi. Sejelek apapun wujudnya (isi tulisannya). Biarpun tidak ada yang mengenangnya. Harapanku sederhana, agar ia merasakan zaman mendatang yang mungkin tidak aku alami. 

Tulisan adalah karunia. Tidak begitu berbeda dengan bayi yang meneriakkan tangisan pertamanya di dunia. Tulisan juga merupakan karunia bagiku. Ia adalah anakku. Ia yang akan kudidik sepanjang nasib mengajarkanku. Ia yang kubiarkan hidup sesuka yang ia kehendaki. Ia yang akan berkelana bertemu teman-temannya, lalu bersuara seraya berpesan tentang moralitas dan kemanusiaan.

Kenapa harus moralitas dan kemanusiaan? Jika tanpa bersuara dan berpesan tentang kemanusiaan, atas dasar apa ia berhak untuk menikmati dunia? Sedang yang menderita tetap saja ada. Bukan kah nurani, pikiran dan tulisan yang sebaik-baiknya adalah yang mencerahkan? Walau hanya sekedar goresan pena. 

Salam.

Malang, 7 Februari 2014
Aqsha Al Akbar

5 comments:

  1. Nah, ini yang aku suka!
    Selalu ada pesan berharga dari sebuah karya.
    Ayo, kawan! Mari kita berjuang di jalur ini!
    Semoga kita bisa mengubah dunia!

    Salam kenal, saya Nazri :-d
    Mohon bimbingannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayok lah kita hantam sombongnya dunia.
      Pimpin jalan, kapten!

      Salam kenal, rakan.
      Nanti saya bimbing kalo rakan bimbing saya dulu. (o)

      Delete
  2. Makna tulisannya daleeem sekali. Penuh filosofi, sama dengan buku2 yang rupanya Anda sukai dan nikmati. Biasanya penulis bertutur dari apa yang dibaca dan disukainya. Anda menunjukkan cerminannya..

    ReplyDelete
  3. Maaf salam kenal mas..tiba2 kotak komentarmu menghilang sebelum usai menitip pesan. Semoga sukses ..:)

    ReplyDelete
  4. Salam Ibu Ketty Husnia.

    Terimakasih komentarnya, Bu. Saya masih belajar dan masih sangat hijau di dunia kepenulisan.
    Mohon bimbingannya, Bu. :)

    ReplyDelete

Silahkan komen yaa